Jumat, 27 Desember 2013

Sintesis Aspirin



SINTESIS ASPIRIN
I. TUJUAN
Melakukan sintesis aspirin berdasarkanreaksi asetilasi antara asam salisilat dengan asam asetat.

II. DASAR TEORI
Aspirin atau asam asetilsalisilat (asetosal) adalah suatu jenis obat dari keluarga salisilat yang sering digunakan sebagai analgesik (terhadap rasa sakit atau nyeri minor), antipiretik (terhadap demam), dan anti-inflamasi. Aspirin juga memiliki efek antikoagulan dan digunakan dalam dosis rendah dalam tempo lama untuk mencegah serangan jantung.
Pada tahun 1853, seorang ahli kimia Perancis bernama Charles Frederic Gerhardt berhasil menetralkan salicin alami menjadi asam salisilat (salicylic acid) lewat penyanggaan (buffering) dengan natrium dan asam asetat. Asam salisilat ini lebih "ramah" terhadap perut. Kemudian di tahun 1899, seorang ahli kimia Jerman, bernama Felix Hoffmann, yang bekerja bagi Bayer, menemukan kembali formula Gerhardt. Hoffmann membujuk Bayer untuk memasarkan obat itu, yang selanjutnya muncul di pasar dengan nama pasaran "Aspirin". Aspirin adalah obat pertama yang dipasarkan dalam bentuk tablet. Sebelumnya, obat diperdagangkan dalam bentuk bubuk (puyer).
Aspirin adalah ester dari asam asetat dan asam salisilat (yang berperran adalah gugus alkohol). Meskipun suatu ester  asam asetat dapat dibuat dengan interaksi langsung asam asetat dengan alkohol atau fenol, para ahli kimia biasanya menggunkan turunan asam asetat yaitu anhidrida asetat sebagai zat pengasetilasi. reaksi pemebentukan ester dengan anhidrida asetat jauh lebih cepat daripada menggunakan asam asetat. biasanya katalis yang digunakan adalah asam sulfat.


II. METODE PRAKTIKUM
1.      ALAT
a.      Labu bulat
b.      pipet tetes
c.       gelas piala
d.      batang pengaduk
e.      gelas ukur
f.        cawan kristalisasi
g.      spatula
h.      pipet ukur
i.        termometer
j.        corong
k.       penangas air

2.      BAHAN
a.      asam salisilat
b.      asam sulfat pekat
c.       asam asetat
d.      etanol

IV. CARA KERJA
1. dimasukkan 5gr asam salisilat dan 5 ml asam asetat ke dalam labu bulat dan ditambahkan dengan asam sulfat pekat kemudian digoyang-goyangkan agar terjadi pencampuran dengan baik.
2. dipanaskan diatas penangas air dengan suhu 50-60 derajat C selama 15 disertai pengadukan
3. campuran dibiarkan dingin, kemudian ditambahkan 37,5 ml aquades lalu diaduk
4. campuran disaring dan kristal yang terbentuk direkristalisasi denan etanol
5. dituangkan larutan ke dalam 15 ml aquades hangat
6. setelah terbentuk kristal jarum jarum halus, larutan disaring

V.  HASIL PENGAMATAN
Berat kertas saring                             = 0,8937 gram
Berat kertas saring + endapan           = 3,029   gram
Berat endapan                                    = 2,1263 gram

VI. PEMBAHASAN
Sintesis aspirin merupakan suatu proses dari esterifikasi. Esterifikasi merupakan reaksi antara asam karboksilat  dengan suatu alkohol membentuk suatu ester. Aspirin merupakan salisilat ester yang dapat disintesis dengan menggunakan asam asetat (memiliki gugus COOH) dan asam salisilat (memiliki gugus OH).
Asam asetat anhidrat digunakan pada praktikum ini karena asam asetat namun kan lebih baik jika menggunkan anhidrat asetat karena anhidrat tidak mengandung air dan dengan mudah menyerap air sehingga dapat mencegah atau menghindari terjadinya hidrolisis aspirin menjadi salisilat dan asetat oleh air.
Asam sulfat pekat yang berfungsi sebagai katalisator ditambahkan pada larutan campuran asam salisilat dengan asam asetat . Dengan kata lain, asam sulfat berfungsi untuk mempercepat terjadinya sintesa dengan cara menurunkan energi aktivasi sehingga reaksi berjalan lebih cepat dan energi yang diperlukan semakin sedikit.
Pada proses pembentukan aspirin, pertama-tama dicampurkan 2,5 gram asam salisilat, 5 ml asetat anhidrat, dan 3 tetes asam sulfat pekat didalam labu didih dasar bulat. Setelah itu, labu digoyang-goyangkan di dalam lemari asam agar zat tercampur sempurna dan menghasilkan campuran berwarna bening. Labu didih dipanaskan diatas penangas air pada temperatur 50-60 oC sambil diaduk selama 15 menit. Campuran dibiarkan dingin pada suhu kamar tetapi tetap aduk sekali-sekali. Kemudian, campuran ditambah dengan 37,5 ml aquadest dan diaduk sempurna yang membentuk 2 lapisan     pada campuran. Campuran didinginkan selama beberapa menit menggunakan batu es dan menghasilkan endapan berwarna putih. Selanjutnya, saring endapan dengan pompa vakum, maka akan didapat aspirin. Aspirin yang didapat sebesar 2,1263 gram.

VII. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengamatan diatas, dapat disimpulkan bahwa aspirin atau asam asetilsalisilat (asetosal) adalah suatu jenis obat dari keluarga salisilat yang sering digunakan sebagai analgesik (terhadap rasa sakit atau nyeri minor), antipiretik (terhadap demam), dan anti-inflamasi. Dan hasil aspirin yang didapat adalah sebesar 2, 1263 gram.

VII. DAFTAR PUSTAKA
Mutiasari Amanda. 2013. Reaksi Acetylasi. http://mutiasariamanda.blogspot.com/2013/04/laporan-kimia-organik-aspirin.html diakses pada 23 desember 2013
Tabroni. 2013. Sintesis Aspirin. http://tabroni-ali.blogspot.com/2013/05/laporan-praktikum-sintesis-aspirin.html. Diakses pada 23 desember 2013

Saponifikasi



SAPONIFIKASI
I. TUJUAN
1.Membuat sabun secara sedarhana
2. Mempelajari sifat-sifat sabun

II. DASAR TEORI
    Reaksiantaraalkoholdanasamkarboksilatdisebutester.Lemakdanminyaknabatimerupakanduatipeester.Lemakmerupakancampuran ester yang dibuatdarialkoholdanasamkarboksilat, sepertiasamstearat, asamoleat, danasampalmitat.Minyak, sepertiminyakzaitunmengandung ester darigliserolasamoleat.Lemakpadatmengandung ester gliseroldanasamstearatatauasampalmitat
    Sabun adalah surfaktan yang digunakan dengan air untuk mencuci dan membersihkan.Sabun biasanya berbentuk padatan tercetak yang disebut batang karena sejarah dan bentuk umumnya.Penggunaan sabun cair juga telah telah meluas, terutama pada sarana-sarana publik.Jika diterapkan pada suatu permukaan, air bersabun secara efektif mengikat partikel dalam suspensi mudah dibawa oleh air bersih. Di negara berkembang, deterjen sintetik telah menggantikan sabun sebagai alat bantu mencuci.
     Banyak sabun merupakan campuran garam natrium atau kalium dari asam lemak yang dapat diturunkan dari minyak atau lemak dengan direaksikan dengan alkali (seperti natrium atau kalium hidroksida) pada suhu 80–100 °C melalui suatu proses yang dikenal dengan saponifikasi. Lemak akan terhidrolisis oleh basa, menghasilkan gliserol dan sabun mentah. Secara tradisional, alkali yang digunakan adalah kalium yang dihasilkan dari pembakaran tumbuhan, atau dari arang kayu.Sabun dapat dibuat pula dari minyak tumbuhan, seperti minyak zaitun.
    Saponifikasi (saponification) adalah reaksi yang terjadi ketika minyak / lemak dicampur dengan larutan alkali. Ada dua produk yang dihasilkan dalam proses ini, yaitu Sabun dan Gliserin.
Istilah saponifikasi dalam literatur berarti “soap making”. Akar kata “sapo” dalam bahasa Latin yang artinya soap / sabun.
     Sabun dibuat dari proses saponifikasi lemak hewan (tallow) dan dari minyak. Gugus induk lemak disebut fatty acids yang terdiri dari rantai hidrokarbon panjang (C-12 sampai C18) yang berikatan membentuk gugus karboksil.Asam lemak rantai pendek jarang digunakan karena menghasilkan sedikit busa. Reaksi saponifikasi tidak lain adalah hidrolisis basa suatu ester dengan alkali (NaOH, KOH).
      Pada umumnya, alkali yang digunakan dalam pembuatan sabun pada umumnya hanya NaOH dan KOH, namun kadang juga menggunakan NH4OH.Sabun yang dibuat dengan NaOH lebih lambat larut dalam air dibandingkan dengan sabun yang dibuat dengan KOH. Sabun yang terbuat dari alkali kuat (NaOH, KOH) mempunyai nilai pH antara 9,0 sampai 10,8 sedangkan sabun yang terbuat dari alkali lemah (NH4OH) akan mempunyai nilai pH yang lebih rendah yaitu 8,0 sampai 9,5.
    Selain itu sabun biasanya membentuk garam dengan ion-ion kalsium, magnesium, atau besi dalam air sadah (hard water).Garam-garam tesebut tidak larut dalam air.Garam yang tidak larut dalam air itu membuat warna coklat pada dinding kamar mandi, kerah baju, atau warna kusam pada pakaian dan rambut.
     Masalah tersebut dipecahkan dengan beberapa cara. Misalnya dengan mengurangi ion-ion kalsium dan magnesium dan menggantinya dengan ion-ion natrium, atau yang dikenal dengan air lunak. (soft water). Selain itu bisa juga dengan menambahkan fosfat pada sabun, karena fosfat membentuk komplek dengan ion-ion logam, larut dalam air, sehingga mencegah ion-ion tersebut membentuk garam taklarut dengan sabun. Namun penggunaan fosfet harus dibatasi, karena jika ikut mengalir dalam danau atau sungai fosfat yang juga berfungsi sebagai pupuk akan merangsang tumbuhnya tanaman sedemikian besar sehingga tanaman menghabiskan oksigen terlarut dalam air dan menyebabkan ikan-ikan mati. Cara lain misalnya dengan mengganti gugus ionik karboksilat pada sabun dengan gugus sulfat atau sulfonat. Cara inilah yang mendasari terbentuknya detergen.
    
III. METODE PERCOBAAN


ALAT
1.      pemanas listrik
2.      erlenmeyer
3.      batang pengaduk
4.      pipet tetes
5.      corong
6.      gelas piala
7.      tabung reaksi


BAHAN
1.      NaOH 25%
2.      MgSO4 5%
3.      NaCl 25%
4.      FeCl3 5%
5.      etanol
6.      butter
7.      CaCl2 5%


 IV. PROSEDUR KERJA
A. Pembuatan Sabun
1. dimasukkan 6,5 ml minyak sayur ke dalam erlenmeyer
2. ditambahkan 5ml etanol dan 5ml NaOH (sebagai pelarut) 
3.dipanaskan dengan penanggas air  sambil diaduk selama 20 menit hingga bau alkohol menghilang
4. didinginkan campuran dengan penangas es.
5. sabun diendapkan ditambahka 37,5 ml NaCl jenuh ke dalam campuran sambil diaduk
6. disaring dan ditimbang bobotnya.


B. Sifat sabun
Zat Pengemulsi
1. Dimasukkan 5 tetes minyak tanah dalam 5 ml air dan dikocok. Diamati apa yang terjadi
2. dimasukkan 5 tetes minyak tanah dalam 5 ml air serta sedikit sabun yang telah dibuat, dikocok dan diamati apa yang terjadi
3. dibandingkan reaksi pertama dan kedua
Reaksi dengan air sadah
1. dimasukkan sabun yang telah dibuat sebanyak sepertiga spatula ke dalam gelas beker yang mengandung 25 ml air
2. dihangatkan beker tesebut di atas penanggas
3. dimasukkan larutan sabuntersebut ke dalam masing-masing tabung reaksi sebanyak 5 ml
4. ditambahkan dengan 2 tetes CaCl2 ke dalam tabung 1, 2 tetes FeCl3 pada tabung 2, 2 tetes MgSO4 pada tabung tiga dan 2 tetes air keran dalam tabung 4
5. diamati apa yang terjadi
Kebasaan (alkalinitas)
1. di tes kebasaan larutan sabun dengan pH indikator  

V. HASIL PENGAMATAN
A. Pembuatan Sabun
Butter + etanol + NaOH = larutan berwarna kuning
Sabun yang dihasilkan 0 gram.
VI. PEMBAHASAN
Percobaan kali ini adalah reaksi saponifikasi, Saponifikasimerupakan proses pembuatansabun yang berlangsungdengan mereaksikanasamlemakkhususnyatrigliseridadengan alkali yang menghasilkan sabundanhasilsampingberupagliserol.Sabun adalah garam logam alkali yang mempunyairangkaiankarbon yang panjangdari asam-asam lemak, dimana dalam percobaan ini alkali yang dimaksud adalah natrium (Na) dari basa kuat NaOH. Gugus induk lemak disebut fatty acids yang terdiri dari rantai hidrokarbon panjang (C-12 sampai C-18) yang berikatan membentuk gugus karboksil. Sabunmemilikisifat yang unik, yaitupadastrukturnyadimanakeduaujungdari strukturnyamemilikisifat yang berbeda.Padasalahsatuujungnyaterdiridarirantai hidrokarbonasamlemak yang bersifatlipofilik (tertarikpadaataularutlemakdanminyak) ataubasa yang disebutujung nonpolar sedangkanpadaujunglainnyamerupakan ion karboksilat yang bersifathidrofilik (tertarikpadaataularutdalam air) atauujung polar. Reaksi saponifikasi yang terjadi adalah sebagai berikut :
CH3(CH2)14COH     +   3 NaOH   →  3 CH3(CH2)14CO2Na    +       C3H8O3         
Langkah yang dilakukan adalah mereaksikan NaOH yang telah dilarutkan dalam air mendidih dengan butter dan dilakukan pengadukan agar larutan cepat bereaksi. Pada saat dicampurkan, campuran tidak  membentuk 2 lapisan yang kemudian campuran berubah wujud seperti susu kental dan tidak ada minyak yang mengapung di atasnya dan berwarna kekuning-kuningan.  Pada proses ini bahan yang digunakan adalah butter. Maka dari itu butter tidak dapat menghasilkan sabun yang diinginkan. Karena bahan komposisi dari butter tersebut adalah berasal dari cream atau susu, sedangkan bahan baku dari sabun itu sendiri berasal dari minyak nabati atau lemak hewan.
VII. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil percobaan, pembuatan sabun berasal dari bahan baku yang terdiri dari minyak nabati atau lemak hewani. Butter tidak dapat digunakan untuk pembuatan sabun.

VII. DAFTAR PUSTAKA
Saepul Rohman. 2009. Pembuatan Sabun. http://majarimagazine.com/2009/07/bahan-pembuatan-sabun/. Diakses pada tanggal 22 desember 2013
Wahwed.2010. Perbedaan Antara Margarine, Butter dan Mentega. http://wahw33d.blogspot.com/2010/08/perbedaan-antara-mentega-margarin-dan.html. Diakses pada 22 desember 2013